Lompat ke isi halaman
Eco Enzyme NusantaraKab. Lampung Timur

Edukasi Dasar

Apa Itu Eco Enzyme?

Sebelum membuat, kenali dulu apa yang sedang kita buat, siapa yang menemukannya, dan mengapa hal sesederhana ini bisa sangat berarti bagi Bumi.

Pengertian

Cairan hasil fermentasi 90 hari

Eco enzyme adalah cairan serba guna hasil fermentasi selama 90 hari dari tiga bahan yang ada di dapur kita.

  • Sisa buah & sayur

    Kulit buah, potongan sayur, buah afkir, buah memar — asalkan masih mentah.

  • Gula

    Gula merah atau molase (tetes tebu). Bukan gula pasir putih.

  • Air

    Air sumur, air hujan, air buangan AC, atau air keran yang sudah didiamkan.

Kenapa disebut “enzyme”?

Selama fermentasi, mikroba bekerja mengurai bahan organik dan menghasilkan bermacam-macam enzim alami. Setiap jenis enzim punya tugas berbeda dalam proses biokimia — ada yang menguraikan lemak, ada yang menguraikan protein, ada yang melawan kuman.

Karena itulah satu botol eco enzyme bisa berguna untuk banyak hal sekaligus: kebersihan rumah, pertanian, sampai perbaikan kualitas lingkungan.

Bagaimana prosesnya?

  1. Gula menjadi makanan bagi mikroba baik.
  2. Mikroba bekerja dalam kondisi anaerob — minim oksigen — karena itu wadah harus ditutup rapat.
  3. Bahan organik terurai perlahan dan melepaskan enzim, CO₂, dan hidrogen.
  4. Setelah 90 hari, cairannya berwarna cokelat dan beraroma asam segar seperti cuka.

Sejarah

Siapa yang menemukan eco enzyme?

Penemu

Dr. Rosukon Poompanvong

Pendiri Asosiasi Pertanian Organik Thailand. Beliau meneliti eco enzyme selama 30 tahun dan membagikan seluruh hasil penelitiannya secara cuma-cuma, dengan harapan semua orang tergerak menyelamatkan Bumi.

Penyebar

Dr. Joean Oon

Peneliti naturopati dari Penang, Malaysia. Beliau yang memperkenalkan eco enzyme secara lebih luas hingga sampai ke Indonesia dan akhirnya ke Lampung Timur.

Amanah yang kami jaga

Karena ilmu ini diberikan cuma-cuma, komunitas eco enzyme mendorong semua pihak untuk tidak memperjualbelikan eco enzyme. Bagikan cairannya, ajarkan cara membuatnya. Itulah bentuk penghargaan tertinggi kepada Dr. Rosukon.

Alasan

Mengapa kita perlu membuat eco enzyme?

Ada empat alasan yang saling berkaitan — dan semuanya dimulai dari tempat sampah di dapur kita.

1. Mengurangi beban TPA

Sekitar 60% sampah yang dibuang ke TPA adalah sampah organik. Pengelolaan yang buruk menimbulkan bau busuk, air lindi hitam, banjir, hingga pencemaran sungai di sekitar TPA.

Kalau sisa dapur kita olah sendiri jadi eco enzyme, sampah itu tidak pernah sampai ke TPA.

2. Mencegah pemanasan global

Sampah organik yang membusuk di TPA menghasilkan gas metana — salah satu gas rumah kaca yang memerangkap panas matahari 21 kali lebih kuat daripada CO₂.

Fermentasi eco enzyme menghasilkan CO₂ dan hidrogen, bukan metana. CO₂ masih bisa diserap tumbuhan, sehingga jauh lebih ringan dampaknya.

3. Mengganti produk kimia sintetis

Hampir semua produk pembersih rumah tangga di pasaran dibuat dari bahan kimia sintetis agar harganya murah. Bahan itu bisa mengiritasi kulit dan mencemari perairan, sementara kemasan plastiknya bertahan sangat lama di Bumi.

4. Menghemat pengeluaran

Satu botol eco enzyme bisa menggantikan sabun pel, pembersih kloset, pengharum ruangan, pupuk cair, dan pelembut pakaian. Bahannya pun dari sisa dapur yang selama ini dibuang.

Pelajaran dari Leuwigajah

Pada 21 Februari 2005, timbunan sampah TPA Leuwigajah di Bandung longsor dan meledak akibat gas yang terkumpul di dalamnya. Bencana itu menghilangkan 157 nyawa, 137 rumah, 2 desa, dan 8,4 hektar lahan pertanian. Sampah dapur yang tidak dikelola bukan perkara sepele.

Tanya jawab

Pertanyaan yang sering diajukan

Apakah eco enzyme punya tanggal kedaluwarsa?

Tidak. Eco enzyme yang berhasil justru semakin baik kualitasnya bila disimpan makin lama. Simpan di wadah tertutup dan jauh dari sinar matahari langsung.

Bolehkah pakai gula pasir putih?

Tidak dianjurkan. Gunakan molase (tetes tebu) atau gula merah — gula tebu, aren, kelapa, atau lontar. Gula pasir sudah kehilangan banyak senyawa alami yang dibutuhkan mikroba.

Bolehkah memakai wadah kaca?

Tidak boleh. Gas fermentasi bisa membuat wadah kaca pecah. Gunakan wadah plastik bertutup dengan mulut lebar.

Kulit buah apa yang tidak boleh dipakai?

Hindari bahan berlemak seperti daging alpukat, durian, dan kelapa. Hindari juga bahan yang sudah dimasak, kering, keras, busuk, berjamur, atau berulat.

Apakah eco enzyme boleh diminum?

Situs ini tidak menganjurkan meminum eco enzyme. Fokuskan pemakaian pada kebersihan rumah, pertanian, dan perbaikan lingkungan. Untuk urusan kesehatan, konsultasikan dengan tenaga medis.

Bagaimana kalau saya belum punya cukup sisa buah?

Bisa dicicil. Siapkan air dan gula sesuai takaran, lalu tambahkan sisa buah sedikit demi sedikit selama maksimal 2 minggu. Catat beratnya setiap kali menambah. Hitung tanggal pembuatan dari hari saat takaran bahan akhirnya terpenuhi.

Apakah eco enzyme boleh diperjualbelikan?

Dr. Rosukon Poompanvong membagikan ilmu ini secara cuma-cuma agar semua orang tergerak menyelamatkan Bumi. Komunitas eco enzyme mendorong agar cairan ini tidak diperjualbelikan, melainkan dibagikan.

Apa bedanya eco enzyme dengan kompos?

Kompos adalah proses aerob (butuh udara) dan menghasilkan pupuk padat. Eco enzyme adalah proses anaerob (minim udara) dan menghasilkan cairan serba guna. Ampas eco enzyme sendiri masih bisa dijadikan bahan kompos.